Rabu, 26 Agustus 2015

SEMINAR ELLY RISMAN, Psi Komunikasi Efektif pada Anak By. Heryuni S, S.pd





SEMINAR ELLY RISMAN, Psi Komunikasi Efektif pada Anak By. Heryuni S, S.pd Sesi awal, kita disadarkan akan gaya komunikasi yang kita pakai saat ini tercermin dari bagaimana reaksi pasangan, anak atau oranglain terhadap kita sekarang. Ada beberapa hal yang salah dalam diri kita, salah satunya kita tidak menguasai ilmu parenting saat kita menjadi orang tua. Beberapa kesalahan tersebut adalah : A. Kita tidak siap menjadi orangtua : tidak menguasai tahap perkembangan anak dan bagaimana otak anak bekerja B. Bicara tidak sengaja pada anak Akibatnya : - Melemahkan konsep diri anak - Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama (gaya ular -  kalo gak dilawan, mundur (bodo amat ) - Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak - Kemampuan berfikir menjadi rendah - Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan - IRI terus Dampak ini tidak akan hilang seiring dengan bertambahnya usia, mereka bisa menjadi pribadi yang lemah, hidup dalam batang otak, tak mampu berfikir analitis. Makanya, biasakan cara bicara yang happy, karena saat kita senang, otak menyerap lebih banyak, saat kita tersenyum, sejatinya kita sedang bersedekah dengan diri sendiri karena serotonin akan keluar. C. Kita menggunakan gaya komunikasi yang salah, yaitu 10 kekeliruan dalam berkomunikasi? Kekeliruan dalam berkomunikasi yaitu : 1. Bicara tergesa-gesa : saat kita bicara tergesa-gesa, pesan tidak akan sampai (distorsi komunikasi). Biasakan untuk melakukan segala hal sesuai dengan rencana, apa yang akan kita kerjakan, apa yang diinginkananak selama seminggu (missal) dalam hal makanan, siapa dan maunya apa, biasakan untuk berkumpul dan berbicara tentang rencana seminggu kedepan. 2. Tidak kenal diri sendiri : bagaimana kita bisa mengenal anak kita, mengenal diri sendiri saja belum. Terlalu banyak melihat keluar tapi tidak melihat kedalam, melihat negatifnya anak tapi tidak melihat kekurangan kita. 3. LUPA kalau setiap individu UNIK. Bahwa setiap kita terlahir merupakan pemenang dari berjuta sel sperma yang gagal masuk kedalam sel telur. 4. Setiap kebutuhan dan keinginan berbeda, kita sebagai orang tua merasa SOK TAU dengan kebutuhan anak, padahal anaknya maunya yang lain (salah faham) 5. Tidak membaca bahasa tubuh, lihat sudah berapa banyak bahasa tubuh anak yang tidak tertangkap oleh kita, perhatikan baik-baik garis wajahnya, posisi tangan dan kakinya. Coba fahami lebih dalam. 6. Tidak mendengar perasaan : anak usia 10-14 tahun banyak yang punya keinginan bunuh diri karena tidak didengarkan perasaannya. 7. Kurang mendengar aktif : saat bicara dengan anak, kita mendengarkan sambil pegang gadget tetapi saat anak bicara dengan kita, kita maunya mereka memperhatikan kita. 8. Kalau berbicara pakai 12 gaya popular : a.) memerintah, b.) menyalahkan, c.) meremehkan, d.) membandingkan, e.) mencap / label, f.) mengancam, g.) menasehati, h.) membohongi, i.) menghibur, j.) mengkritik, k.) menyindir, l.) menganalisa. Nah, kalau kita menerapkan itu semua, akibatnya anak jadi tidak percaya diri. Jadi, hindari 12 gaya populer ini Jiwa anak seperti kantong. Agar anak kantong jiwanya kenceng selalu dapet penghargaan dari ortu dan orang sekitar. Anak yang selalu mendapat perlakuan 12 gaya populer, kantong jiwanya bisa kempot. Tangkap "basah" dan puji anakmu ketika berperilaku baik (catatlah hanya kebaikannya, jangan catat kejelekannya) 9. Selalu menyampaikan pesan kamu : hal ini terkesan anaklah yang salah. “kamu sih, telat bangun, jadi semuanya terlambat” 10. Tidak memisahkan masalah siapa : sering kali kita ikut campur dengan masalah anak. D. Kiat meningkatkan komunikasi : 1. BACA BAHASA TUBUH : Komunikasi itu : 55% bahasa tubuh38% nada suara. Bicara sama anak jangan nada datar. 7% kata kata 2. Dengarkan perasaan, tebak perasaannya, Beri nama perasaanya, “capek ya?” “kesel sekali dong” tunggu jawabannya lalu tebak lagi Kalau emosi sudah mengalir, anak akan merasa lapar, dan kalau emosi tidak mengalir dia tidak akan lapar. Setelah emosi mengalir, dilain waktu (misalkan sore hari) bicarakan kembali dan cari solusinya bersama 3. Mendengar aktif, jadilah cermin, “oooh begituuu, sedih dong, bĂȘte dooong” Buatlah got emosi untuk mengalirkan perasaan anak Duduk disamping anak, rasakan perasaannya, tebak perasaannya 4. Hindari 12 gaya popular (diatas) Jiwa anak seperti kantong. Agar anak kantong jiwanya kenceng selalu dapet penghargaan dari ortu dan orang sekitar. Anak yang selalu mendapat perlakuan 12 gaya populer, kantong jiwanya bisa kempot. 5. Tentukan masalah siapa, masalah ANAK, atau ORANGTUA? biasakan anak berfikir BMM (Berfikir, Memilih, Mengambil keputusan) 6. Jangan bicara tergesa-gesa, gunakan kalimat pendek, bedakan cara berbicara anak laki-laki dengan anak perempuan. Karena cara kerja otak perempuan dengan cara kerja otak laki-laki beda. Bicara sama anak laki-laki harus pendek-pendek, 15 kata berhenti dulu, lihat pesannya sampai atau tidak, ulang lagi.bicara dalam keadaan hati senang. 7. Belajar untuk mengenali diri sendiri dan mengenal lawan bicara (tangkap basah dan puji anak saat melakukan kebaikan. Catat yang baik saja, jangan yang jeleknya) 8. Ingat, setiap individu UNIK. 9. Fahami bahwa kebutuhan dan keinginan berbeda 10. Sampaikan pesan SAYA Mama/papa…..(perasaan orangtua) Kalau kamu……(perilaku anak) Karena………….(konsekuensi terhadap diri ortu/lingkungan) Mama MERASA kesal sekali sama kamu KALAU KAMU tidak pulang tepat waktu KARENA mama khawatir ada apa-apa dengan kamu Buat yang sedang pusing keuangan, bisa pake jurus ini : Mama MERASA pusing mengatur keuangan KALAU PAPA tidak cari tambahan pemasukan KARENA anak-anak semakin besar Karenanya rubah caramu mengasuh anak sebelum aqil baligh, karena saaat kamu salah, sesungguhnya kamu sedang salah juga mengasuh cucumu (kesalahan berulang) Akibat bicara tidak sengaja pada anak. 1. Melemahkan konsep diri 2. Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama. 3. Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak. 4. Kemampuan berfikir menjadi rendah. 5. Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri. 6. Iri terus Komunikasi yang salah menyebabkan anak menjadi BLAST (Bored, Lonely, Angry, Stress, Tired) yang berakibat pada Pornografi, seks suka sama suka, pacaran, LGBT, Masturbasi, oral sex, merokok, miras, narkoba. Demikian catatan saya semoga bermanfaat yaaa…





Dikutip dari IIP Rumbel Bogor 

Kenali Anak Mu

Kemanakah senyuman itu pergi?
Ayah ibu
kemanakah senyuman itu pergi?
Senyum tulus yang engkau berikan kepada ku
Saat aku pertama kali hadir dalam hidupmu
Senyum tulus tanpa sarat apapun
Senyum tulus hanya karena aku anakmu.
Sekarang sulit sekali melihat senyummu itu.
Engkau hanya tersenyum bila aku menemui keinginanmu
Engkau hanya tersenyum bila aku mendapat nilai-nilai bagus disekolah
Engkau hanya tersenyum saat aku menjadi seperti apa yang engkau inginkan
Ayah...Ibu...
Izinkan aku menjadi diriku sendiri
Menapaki jalan hidupku
Beri saja senyum tulus yang dulu itu
Senyum tulus tanpa syarat..
Ayah..Ibu
Izinkan aku sekedar menjadi anakmu
Seorang anak yang membawa semua kebaikanmu
Seorang anak yang berupaya untuk dewasa
Seorang anak ysng berupaya untuk setia pada yang benar
Banggalah kepadaku seperti aku bangga kepadamu tanpa syarat apapun
#pertanda-anakmu

                Melihat sebuah pesan yang tertulis dari buku Angga setiawan ini jelas menggambarkan seorang anak kehilangan kasih sayang dengan sikap orang tuanya, kehilangan senyuman, dekapan sentuhan kasih sayang yang seharusnya dilakukan orang tuatanpa syarat, haruskan setiap anak merasakan hal-hal  mengecewakan terlebih dahulu baru mendapatkan suatu yang mereka inginkan. Dengan demikian sebagai orang tua harus mengenal anak lebih dalam, karna anak terlahir dengan bukan di zaman orang tua dilahirkan.
















Saat orang tua menyampaikan suatu pesan hal pertama yang anak tangkap bukan isi pesannya, tetapi rasa atas pesan tersebut, apakah rasanya enak atau tidak enak, apakah rasanya menyenangkan atau malah menyedihkan, jika dirasa pesan yang anak terima itu menyenangkan, pesan tersebut akan akan diteruskan ke otak berfikir anak sehingga otak anak akan bekerja mengolah pesan tersebut. Tentu itu sesuai dengan kesanggupan anak dalam memahami isi pesannya. kalau rasa tidak enak, pesan tersebut akan diteruskan ke otak reptil anak sehingga yang terjadi pesan terssebut tidak di olah, anak akan bersiaga satu untuk melawan atau lari guna menghindari untuk  melaksanakan isi pesan tersebut. Jadi, cara kerja anak menangkap sebuah pesan itu berurutan, rasa atas pesannya lebih dahulu, baru isi pesannya. Cara kita dalam menyampaikan pesan tersebut menjadi penentu bagaimana anak akan memaknai dan merepons pesan. Kalai cara kita menyampaikan menyenangkan, anak akan mendapat rasa enak. Sebaliknya, jika cara kita menyampaikan tidak menyenangka, anak akan menangkap rasa tidak enak.[1]
Sebagai contoh kita menyuruh anak belajar dengan cara yang tidak menyenangkan. Marah-marah, bentak-bentak, atau mengancam, misalnya. Maka dari itu yang ditangkap anak pertama kali bukan pesan pelajaran, tetapi cara kita menyampaikan pesan tersebut. Jelas anak menagkap bahwa cara kita tidak enak sehingga pesan tersebut diteruskan ke otak reptil anak. Anak menjadi bersiaga satu untuk melawan atau lari dari situasi tersebut. Namanya juga otak reptil, tidak bisa untuk untuk berfikir. Bila kita gunakancara yang tidka enak tersebut berulang kali, anak akan memiliki sebuah keyakinan di bawah sadar belajar sama dengan tidak enak. Jadi, pada kemudian hari, saat dia mendengar kata “belajar”, otomatis akan muncul di benaknya pesaraan “tidak enak”.
Jika anak sudah terlanjur bagaimana? Masih bisa diubah? tentu masih bis adi ubah bila kita (baca:orang tua) mengubah cara kita menyampaikan sehinggaanak menangkap rasa yang baru atas pesan yang kita sampaikan. Yang sebelumnya dia menangkap rasa tidak enak saat dimintabelajar, eh sekarang orang tuanya melakukan yang berbeda (so sweet).
Ada dua pilihan cara yang bisa kita gunakan afar anak memaknainya dengan “enak”. Yaitu pertama , buatlah anak terpikat dan kedua  buatlah mereka merasa butuh. Kalau membuat anak terpikat, presentasikan bahwa melakukan yang kita maksud adalah enak.



[1] Kenali anakmu, Angga setiawan 2014