Rabu, 26 Agustus 2015

Kenali Anak Mu

Kemanakah senyuman itu pergi?
Ayah ibu
kemanakah senyuman itu pergi?
Senyum tulus yang engkau berikan kepada ku
Saat aku pertama kali hadir dalam hidupmu
Senyum tulus tanpa sarat apapun
Senyum tulus hanya karena aku anakmu.
Sekarang sulit sekali melihat senyummu itu.
Engkau hanya tersenyum bila aku menemui keinginanmu
Engkau hanya tersenyum bila aku mendapat nilai-nilai bagus disekolah
Engkau hanya tersenyum saat aku menjadi seperti apa yang engkau inginkan
Ayah...Ibu...
Izinkan aku menjadi diriku sendiri
Menapaki jalan hidupku
Beri saja senyum tulus yang dulu itu
Senyum tulus tanpa syarat..
Ayah..Ibu
Izinkan aku sekedar menjadi anakmu
Seorang anak yang membawa semua kebaikanmu
Seorang anak yang berupaya untuk dewasa
Seorang anak ysng berupaya untuk setia pada yang benar
Banggalah kepadaku seperti aku bangga kepadamu tanpa syarat apapun
#pertanda-anakmu

                Melihat sebuah pesan yang tertulis dari buku Angga setiawan ini jelas menggambarkan seorang anak kehilangan kasih sayang dengan sikap orang tuanya, kehilangan senyuman, dekapan sentuhan kasih sayang yang seharusnya dilakukan orang tuatanpa syarat, haruskan setiap anak merasakan hal-hal  mengecewakan terlebih dahulu baru mendapatkan suatu yang mereka inginkan. Dengan demikian sebagai orang tua harus mengenal anak lebih dalam, karna anak terlahir dengan bukan di zaman orang tua dilahirkan.
















Saat orang tua menyampaikan suatu pesan hal pertama yang anak tangkap bukan isi pesannya, tetapi rasa atas pesan tersebut, apakah rasanya enak atau tidak enak, apakah rasanya menyenangkan atau malah menyedihkan, jika dirasa pesan yang anak terima itu menyenangkan, pesan tersebut akan akan diteruskan ke otak berfikir anak sehingga otak anak akan bekerja mengolah pesan tersebut. Tentu itu sesuai dengan kesanggupan anak dalam memahami isi pesannya. kalau rasa tidak enak, pesan tersebut akan diteruskan ke otak reptil anak sehingga yang terjadi pesan terssebut tidak di olah, anak akan bersiaga satu untuk melawan atau lari guna menghindari untuk  melaksanakan isi pesan tersebut. Jadi, cara kerja anak menangkap sebuah pesan itu berurutan, rasa atas pesannya lebih dahulu, baru isi pesannya. Cara kita dalam menyampaikan pesan tersebut menjadi penentu bagaimana anak akan memaknai dan merepons pesan. Kalai cara kita menyampaikan menyenangkan, anak akan mendapat rasa enak. Sebaliknya, jika cara kita menyampaikan tidak menyenangka, anak akan menangkap rasa tidak enak.[1]
Sebagai contoh kita menyuruh anak belajar dengan cara yang tidak menyenangkan. Marah-marah, bentak-bentak, atau mengancam, misalnya. Maka dari itu yang ditangkap anak pertama kali bukan pesan pelajaran, tetapi cara kita menyampaikan pesan tersebut. Jelas anak menagkap bahwa cara kita tidak enak sehingga pesan tersebut diteruskan ke otak reptil anak. Anak menjadi bersiaga satu untuk melawan atau lari dari situasi tersebut. Namanya juga otak reptil, tidak bisa untuk untuk berfikir. Bila kita gunakancara yang tidka enak tersebut berulang kali, anak akan memiliki sebuah keyakinan di bawah sadar belajar sama dengan tidak enak. Jadi, pada kemudian hari, saat dia mendengar kata “belajar”, otomatis akan muncul di benaknya pesaraan “tidak enak”.
Jika anak sudah terlanjur bagaimana? Masih bisa diubah? tentu masih bis adi ubah bila kita (baca:orang tua) mengubah cara kita menyampaikan sehinggaanak menangkap rasa yang baru atas pesan yang kita sampaikan. Yang sebelumnya dia menangkap rasa tidak enak saat dimintabelajar, eh sekarang orang tuanya melakukan yang berbeda (so sweet).
Ada dua pilihan cara yang bisa kita gunakan afar anak memaknainya dengan “enak”. Yaitu pertama , buatlah anak terpikat dan kedua  buatlah mereka merasa butuh. Kalau membuat anak terpikat, presentasikan bahwa melakukan yang kita maksud adalah enak.



[1] Kenali anakmu, Angga setiawan 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar