Kemanakah
senyuman itu pergi?
Ayah
ibu
kemanakah
senyuman itu pergi?
Senyum
tulus yang engkau berikan kepada ku
Saat
aku pertama kali hadir dalam hidupmu
Senyum
tulus tanpa sarat apapun
Senyum
tulus hanya karena aku anakmu.
Sekarang
sulit sekali melihat senyummu itu.
Engkau
hanya tersenyum bila aku menemui keinginanmu
Engkau
hanya tersenyum bila aku mendapat nilai-nilai bagus disekolah
Engkau
hanya tersenyum saat aku menjadi seperti apa yang engkau inginkan
Ayah...Ibu...
Izinkan
aku menjadi diriku sendiri
Menapaki
jalan hidupku
Beri
saja senyum tulus yang dulu itu
Senyum
tulus tanpa syarat..
Ayah..Ibu
Izinkan
aku sekedar menjadi anakmu
Seorang
anak yang membawa semua kebaikanmu
Seorang
anak yang berupaya untuk dewasa
Seorang
anak ysng berupaya untuk setia pada yang benar
Banggalah
kepadaku seperti aku bangga kepadamu tanpa syarat apapun
#pertanda-anakmu
Melihat sebuah pesan yang
tertulis dari buku Angga setiawan ini jelas menggambarkan seorang anak
kehilangan kasih sayang dengan sikap orang tuanya, kehilangan senyuman, dekapan
sentuhan kasih sayang yang seharusnya dilakukan orang tuatanpa syarat, haruskan
setiap anak merasakan hal-hal
mengecewakan terlebih dahulu baru mendapatkan suatu yang mereka
inginkan. Dengan demikian sebagai orang tua harus mengenal anak lebih dalam,
karna anak terlahir dengan bukan di zaman orang tua dilahirkan.

Saat orang
tua menyampaikan suatu pesan hal pertama yang anak tangkap bukan isi pesannya,
tetapi rasa atas pesan tersebut, apakah rasanya enak atau tidak enak, apakah
rasanya menyenangkan atau malah menyedihkan, jika dirasa pesan yang anak terima
itu menyenangkan, pesan tersebut akan akan diteruskan ke otak berfikir anak
sehingga otak anak akan bekerja mengolah pesan tersebut. Tentu itu sesuai
dengan kesanggupan anak dalam memahami isi pesannya. kalau rasa tidak enak,
pesan tersebut akan diteruskan ke otak reptil anak sehingga yang terjadi pesan
terssebut tidak di olah, anak akan bersiaga satu untuk melawan atau lari guna
menghindari untuk melaksanakan isi pesan
tersebut. Jadi, cara kerja anak menangkap sebuah pesan itu berurutan, rasa atas
pesannya lebih dahulu, baru isi pesannya. Cara kita dalam menyampaikan pesan
tersebut menjadi penentu bagaimana anak akan memaknai dan merepons pesan. Kalai
cara kita menyampaikan menyenangkan, anak akan mendapat rasa enak. Sebaliknya,
jika cara kita menyampaikan tidak menyenangka, anak akan menangkap rasa tidak
enak.[1]
Sebagai
contoh kita menyuruh anak belajar dengan cara yang tidak menyenangkan.
Marah-marah, bentak-bentak, atau mengancam, misalnya. Maka dari itu yang
ditangkap anak pertama kali bukan pesan pelajaran, tetapi cara kita
menyampaikan pesan tersebut. Jelas anak menagkap bahwa cara kita tidak enak
sehingga pesan tersebut diteruskan ke otak reptil anak. Anak menjadi bersiaga
satu untuk melawan atau lari dari situasi tersebut. Namanya juga otak reptil,
tidak bisa untuk untuk berfikir. Bila kita gunakancara yang tidka enak tersebut
berulang kali, anak akan memiliki sebuah keyakinan di bawah sadar belajar sama
dengan tidak enak. Jadi, pada kemudian hari, saat dia mendengar kata “belajar”,
otomatis akan muncul di benaknya pesaraan “tidak enak”.
Jika anak
sudah terlanjur bagaimana? Masih bisa diubah? tentu masih bis adi ubah bila
kita (baca:orang tua) mengubah cara kita menyampaikan sehinggaanak menangkap
rasa yang baru atas pesan yang kita sampaikan. Yang sebelumnya dia menangkap
rasa tidak enak saat dimintabelajar, eh sekarang orang tuanya melakukan yang
berbeda (so sweet).
Ada dua
pilihan cara yang bisa kita gunakan afar anak memaknainya dengan “enak”. Yaitu pertama , buatlah anak terpikat dan kedua buatlah mereka merasa butuh. Kalau membuat
anak terpikat, presentasikan bahwa melakukan yang kita maksud adalah enak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar